oleh

Jonkay Memanfatkan Peninggalan Belanda

-Daerah-17 views

Padang-Warga Sungai Barameh, Kecamatan Lubuk Begalung, Padang, wajar ucapkan terimakasih kepada Jon kay (Jon kayo), berkat dia warga setempat dapat menikmati air bersih dari pegunungan. Tak hanya itu, kapal Tanker serta Bagan yang parkir sekitar pelabuhan Teluk Bayur dan Bungus ikut menikmati air murah yang siap minum. 

Jonkay adalah pendekar lingkungan hidup yang banyak ide membangun nagari.  Nama sebenarnya, Yuliarjon dipercaya sebagai Ketua RT oleh warganya. Selaku orang yang di tua kan Jonkay tidak ingin nagarinya terkebelakang dan tertinggal dibandingkan daerah lain. Nagari Sungai Barameh yang terletak di bawah kaki bukit Barisan dan berbatasan dengan Samudera Hindia. Sumber kehidupan masyarakat setempat pada umumnya nelayan.

Banyak yang tidak tahu, negeri di bawah kaki bukti tersebut menyimpan potensi ekonomi besar. Selain, ladang yang luas serta diiisi berbagai macam tanaman bernilai tinggi. Juga terdapat peninggalan kolonial Belanda yaitu, sumber air bersih lengkap dengan intake dan instalansi pipa besi yang berumur ratusan tahun.

Intake besar tersebut dibangun tahun 1921, ditandai dengan prasasti tertulis pada bangunan yang masih kokoh. Dari sana  awalnya Jonkay memulai membangun ekonomi nagarinya. Dia bersama enam orang temannya melakukan survei sumber air yang mengalir dari atas bukit. Kemudian membersihkan intake yang sudah berlumut karena lama tak digunakan buat penampungan air.

Intake itu dulunya dikelola oleh Pelindo, namun tahun 1985 diberikan ke nagari buat mengelolanya. Sejak itu, bak air zaman penjajahan tersebut terbengkalai. Kejelian Jonkay dan kawan-kawan adanya emas terselubung dia manfaatkan. Dengan modal lebih kurang Rp 10 juta dibangun pula intake yang kapasitasnya 80 kubik. 

Pembangunan intake kecil tersebut sempat jadi tandatanya. Bahkan, mereka dianggap gila. Pasalnya, intake yang lama saja tidak terpakai sekarang dibangun lagi yang baru. Suara minor warga tak membuat Jonkay dan kawan-kawan patah arang.  Berkat kerja keras, akhirnya bak air tersebut selesai. “Sekarang mereka yang mencemooh itu ikut pula membantu tanpa diminta,” ujar Jonkay.

Baca juga  Dirut PTSP: Jaga Keselamatan Diri dan Keluarga dari COVID-19

Kekeringan saat musim kemarau bukan jadi momok yang menakutkan. Sekarang, air tersebut dialirkan ke warga sekitarnya dengan dipungut biaya Rp 5 ribu setiap rumah. Selain itu ada pula biaya beban sebesar Rp 15 ribu. “Jadi totalnya Rp 20 ribu sebulan. Warga bebas menggunakan air sebanyak mungkin untuk keperluan rumah tangga,” jelasnya.

Demi keamanan dan legalitas, dibentuklah Badan Usaha Masyarakat (Bamus) unit pengelolaan air. Usaha tersebut sudah mendapat sertifikat dari Balai Pengawas Obat dan Makaman (POM). Kualitas air bersih tersebut tak diragukan lagi. Bahkan, siap untuk diminum. Bagusnya kualitas air tersebut tersebar pula ke pelabuhan Teluk Bayur dan Bungus. Beberapa kapal tanker dan kapal penumpang menggunakan air milik Bamus Sungai Barameh. “Kualitas air kita boleh diuji dan tidak pakai kimia seperi kaporit,” jelas Jonkay.

Hasil dari penjualan air itu dibagi 50 persen buat nagari, 50 persen untuk pengelola. Kesepakatan tersebut disetujui oleh LPM Wilayah II Sungai Barameh dan kepala suku serta Niniak Mamak. “Karena kita sebelumnya untuk membangun intake terpaksa mencari pinjaman. Jadi wajar pengelola dapat bagian 50 persen,” jelas Sahril Rajo Nan Sati salah seorang penggagas pengelolaan air bersih.

Berkat berfungsinya intake tersebut sebanyak 500 orang warga sekitar menikmati air bersih. Bahkan, daerah tetangga seperti Teluk Nibung bersedia pula jadi pelanggan. Karena, belum masuknya air dari Perumda air minum kota Padang.  “Tujuan saya bagaimana nagari ini punya air bersih, tidak berharap lagi suplay dari Perumda air bersih kota Padang,” kata Jonkay.

Kekompakan pemuda dan warganya patut diacungi jempol. Jonkay didamping sejumlah pemuda selalu menjaga kelestarian hutan yang luas ratusan hektar itu. Tak mengherankan, pohon-pohon berdiameter besar cukup banyak ditemukan dan tidak tersentuh pembalak liar. Sebab, masyarakat sekitar menjaga kelestariannya. Mereka paham benar, sumber air terdapat di hutan. “Warga tidak ada yang berani melakukan pembabatan hutan. Mereka sadar betul merusak hutan berarti merusak sumber air,” kata Jonkay yang pernah mengelilingi hutan tersebut dari pagi hingga sore.

Baca juga  PAD Pessel, tahun 2019 capai Rp 135 Miliar lebih

Sekarang perjuangan Jonkay membangun nagari dengan caranya sendiri dapat pujian warga setempat. Namun, ada yang belum kesampaian keinginannya yaitu, mencari investor untuk membangun pabrik air minum mineral. (almadi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *