oleh

Walikota Padang Buka Festival Sipak Rago se Sumbar Melibatkan 90 Tim

-Berita-26 views

PADANG-Sebanyak 90 tim sepak rago se Sumbar berlaga pada Festival Sipak Rago di Sasaran salingka raso, Kampung Tangah, Guo, Kecamatan Kuranji,Kota Padang, Sabtu (18-20) Juni 2021. Festival ini menjadi ajang unjuk kebolehan sipak rago sekaligus merawat seni tradisi anak nagari.

”Sepak Rago adalah permainan anak nagari. Keberadaannya positif dalam menjalin silaturahmi antar anak nagari,” kata Walikota Padang, Hendri Septa pada pembukaan Festival Sipak Rago di sasaran salingka raso, Kampung Tangah, Guo Kuranji, Sabtu (18/6).

Dikatakannya, untuk mepertahankan seni tradisi anak nagari tersebut dibutuhkan kekompakan. Dibutuhkan kebersamaan. Sehingga tradisi terjaga, generasi muda masih dapat menyaksikan permainan tradisional.

Menurut, Hendri Septa yang juga Ketua DPD PAN Kota Padang ini, Sipak Rago mengandung banyak filosofi. Karena seni tradisi tersebut menggabungkan banyak seni dan budaya dalam satu permainan.

“Kalau Sipak Rago ini dikemas dengan baik tentu akan mendatangkan wisatawan mancanegara dan kehidupan masyarakat dari segi ekonomisnya juga terangkat. Harapan saya bagaimana masyarakat Kuranji ini bisa menjadikan Sipak Rago ini menjadi icon dan dilestarikan, ” ulasnya.

“Kedepannya pemko Padang juga akan mengelar festival sipak rago se Kota Padang yang akan melibatkan sebelas Kecamatan untuk memperebutkan tropi bergilir Walikota Padang dan akan kita jadikan ” Alek” tahunan Pemko Padang, ” sambunynya. 

Sementara, Ketua MPA Pauh IX yang juga Ketua LPM Kota Padang, Irwan Basir Dt Rajo Alam menyampaikan rasa bangganya kepada anak nagari yang selalu andil untuk merawat seni tradisi di Sumbar. Dengan itu, dirinya sangat mengapresiasi festival Sepak Rago tetap bergulir tahun ini.

“Kita tidak mau lupa dengan budaya, menggali budaya dan seni. Kita berkolaborasi bersama. Kekuatan kreatifitas dan seni sangat banyak. Untuk itu kami berkeinginan menjaga semua kegiatan yang potensi dan natural,”ujarnya.

Baca juga  Dandim 0306/50 Kota Pantau Pekerjaan Di Lokasi TMMD/N ke 111

Untuk itu, Irwan Basir berharap kegiatan itu dapat dilakukan secara berkelanjutan. “Bagaiman kekayaan budaya kita dapat diangkat kembali,”katanya.

Ketua FKAN Pauh IX yang juga Wakil Ketua Komisi I DPRD Sumbar, Evi Yandri Rajo Budiman sangat mengapresiasi festival tersebut. Selain merawat juga membangun kebersamaan anak nagari.

“Sipak rago itu unik dan indah, bermain dengan hati dan fisik. Sehingga dapat melestarikan warisan nenek moyang,”sebutnya.

“Yang lebih uniknya dari sembilan belas kabupaten di Sumbar hanya dua kabupaten yang melestarikan seni tradisional ini yaitu Kota Padang dan Kabupaten Padang Pariaman dan begitu juga di sebelas kecamatan di Kota Padang hanya Kuranji dan Koto Tanggah, ” tambahnya. 

Ketua Panitia Festival Sipak Rago Kampung Tangah, Kota Padang, Syahrul menyebutkan, Festival ini melibatkan sebanyak 90 tim. Tim itu berasal dari Kota Padang 60 tim, Padang Pariaman 15 tim dan Pauh IX Kuranji sebanyak 15 tim. 

“Motivasi kami bagaimana permainan anak nagari ini menjadi terpelihara. Keberadaannya tetap dapat kita saksikan. Karena sudah banyak permainan anak nagari yang sudah hilang,”sebutnya.

Dikatakannya, ada banyak permainan anak nagari yang sudah tidak terawat lagi. Karena anak muda sekarang tidak bisa memainkannya, atau memang tidak mau memainkannya.

Kali ini, Festival Sepak Rago mengambil tempat di Kampung Tangah, Kecamatan Kuranji Kota Padang. Karena lokasi ini terdapat alam yang indah dengan dikelilingi sawah yang terbentang luas. Selain itu juga dengan kondisi alam yang masih terpelihara.

Tokoh masyarakat, Safar mengatakan, dalam memainkan Sipak Rago, dimainkan minimal 5 orang, bisa lebih. Pemainnya seperti bersilat. Terkadang menampilkan tarian ala randai. Kemudian dipadu dengan kebolehan menendang bola.

Bolanya terbuat dari rotan, tapi lebih ringan dari bola takrwaw. Bola itu tidak boleh jatuh ke tanah. Harus menendang satu sentuhan masing-masing pemain.

Baca juga  Akhirnya Terbongkar Siapa yang Ambil Bonus Atlet Dayung Sumbar

“Kegiatan ini perlu dipertahankan. Jangan sampai mati seni tradisi anak nagari,”katanya. (naldi) 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *